BENTENG ROTTERDAM FORT ROTTERDAM MUSEUM LA GALIGO
a. Lokasi. Benteng Roterdam/Museum La Galigo terletak di Jln Ujung Pandang No. 11 Kel. Bulogading Kec. Ujung Pandang Kota Makassar Sulawesi Selatan.
b. Aset Tanah dan Bangunan
1) Luas tanah : 28.595,55 m2
2) Luas bangunan : 11.805,85 m2
c. Status Tanah. Tanah Benteng Roterdam/Museum La Galigo seluas 29.955 m2 merupakan tanah dari Pemerintah Kota Makassar dan sudah bersertifikat.
d. Koleksi. Secara keseluruhan dalam bangunan benteng roterdam terdapat 15 bangunan turutan termasuk 1 buah bangunan yang didirikan pada jaman jepang serta memiliki 5 bastion yakni bastion Bone, bastion bacan, bastion Amboina, bastion Mandarsyah dan Bastion Buton.
e. Sejarah Singkat. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Tunipalangga Ulaweng, raja gowa ke-10. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat namun pada masa pemerintahan raja gowa ke-14, Konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari pegunungan karst yang ada didaerah maros. DiKompleks benteng roterdam terdapat museum La galigo yang didalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar dan daerah lainnya yang ada diSulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata dikota Makassar.
Fort Rotterdam ini telah mengalami banyak perubahan fungsi yakni pada masa kerajaan Gowa (1545-1667) berfungsi sebagai salah satu benteng pengawal, untuk melindungi benteng induk Somba Opu, yang juga sebagai pertahanan dan pemukiman pembesar-pembesar kerajaan. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin pernah dijadikan pusat persiapan perang dan membasuh panji-panji dengan darah dalam menghadapi VOC/ Belanda.Perang berakhir dengan penandatanganan perjanjian Bungaya 18 Nopember 1667 (pasal II tentang penyerahan Benteng Ujung Pandang kepada VOC); pada masa pemerintahan kolonial Belanda (1667-1942) Fort Rotterdam
berfungsi sebagai markas komando pertahanan, pusat perdagangan, pemerintahan dan pemukiman pejabat-pejabat Belanda serta tahanan bagi penentang Belanda, tahun 1834-1855 Pangeran Diponegoro pernah ditahan di dalam Benteng Ujung Pandang. Pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945) benteng ini pernah dijadikan pusat penelitian pertanian dan bahasa, di bastion Mandarsyah Jepang membangun gedung yang mirip dengan bangunan yang telah ada; pada masa KNIL (1945-1950) benteng dijadikan pusat pertahanan dalam menumpas gerakan perlawanan TNI dan pejuang republik Indonesia. Kemudian pada tahun 1950-1969 menjadi tempat pemukiman tentara dan sipil. Tahun 1970 benteng dikosongkan dan diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk perawatan dan pelestariannya. Tahun 1974 dijadikan sebagai pusat budaya Sul-sel, sarana wisata budaya dan pendidikan. Dan, hingga saat ini terdapat kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar dan Kantor Museum Negeri Provinsi La Galigo. Secara keseluruhan dalam bangunan benteng Ujung Pandang terdapat sebanyak 16 bangunan turutan termasuk 1 buah bangunan yang didirikan pada jaman Jepang, serta memiliki 5 bastion, yakni bastion Bone, bastion Bacan, bastion Amboina, bastion Mandarsyah, dan bastion Buton. Pertama kali dinding benteng mengalami perubahan dari bahan dasar tanah menjadi batu padas yakni pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tahun 1667, setelah terjadinya perjanjian Bungaya dan pernah dipugar pada tahun 1976 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Makassar. Dalam pembangunannya Benteng Ujung Pandang ini didirikan dengan penyesuaian terhadap kontur lahannya, sehingga menyebabkan perbedaan dalam ukuran dinding-dindingnya. Dinding bagian barat berukuran panjang 225 meter, dinding bagian timur berukuran panjang 193,2 meter, dinding bagian utara berukuran panjang 164,2 meter, sementara bagian selatan dinding tidak memiliki dinding tetapi memiliki jarak terukur 155,35 meter antara Bastion Bacan dengan Bastion Amboina. Dinding benteng memiliki ukuran tinggi bervariasi antara 5 – 7 meter, dengan tebal rata-rata 2 meter. Konstruksi dinding benteng Ujung Pandang terbuat dari batu padas dengan teknik susun timbun dengan spesi. Batu padas tersebut memiliki ukuran bervariasi yaitu panjang antara 44 cm – 62 cm, lebar antara 21 cm – 34 cm, dan tebal antara 10 cm – 20 cm.
f. Pengelola. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Makassar.


