SEJARAH PEMBENTUKAN KODAM XIV/HASANUDDIN

PERIODE TT-VII

Pada awal kemerdekaan terjadi kekacauan politik, dan agresi Belanda serta pemberontakan bersenjata diberbagai doorah. Kondisi tersebut direspon og Pemerintah dan TNI dengan melakukan konsolidasi den reorganisasi. Pada tanggal 20 Juni 1950 di bentuk tujuh Teritorium di seluruh Indonesia. Teritorium VII berkedudukan di Makassar, membawahi Sulawesi dan Maluku. Sebagai Panglima Teritorium VII Letkol Cpm A. A. Mokoginta.

Agustus 1950 nama Teritorium kemudian berubah menjadi Tentara dan Teritorium (TT). TT-VII/Indonesia Timur barkedudukan di Makassar, maliputi wilayah Sulawesi, Maluku, NTT, NTB, Bali dan Irian Barat. Pejabat Panglima TT-VII/Indonesia Timur yaitu:

1. Letkol Inf A. E. Kawilarang Tahun 1950.
2. Kolonel Inf Gatot Subroto Tahun 1951.
3. Kolonel Inf J. F. Warauw Tahun 1953.
4. Letkol Inf H. N. Ventje Samuel Tahun1957.

30 Agustus 1950 TT-VII/Indonesia Timur dibagi ke dalam empat Komando Pasukan (Kompas):

1. Kompas A berkadudukan di Bone. Meliputi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sebagai Komandan Letkal Inf Sukowati
2. Kompas B berkedudukan di Manado. Meliputi Sulawesi Utara dan Tengah. Sebagai Komandan Letkol Inf J.F. Warrouw.
3. Kompas C barkedudukan di Denpasar. Meliputi Nusa tenggara. Sebagai Komandan Letkal Inf A. Kasasih.
4. Kompas D berkedudukan di Ambon. Meliputi seluruh daerah Maluku dan Irian Barat. Sebagai Komandan Kolonel A. E. Kawilarang.

Perkembangan selanjutnya, tanggal 5 Juli 1952 Kompas dirubah lagi menjadi Resiman Infantri:

1. Kompas A menjadi Resimen Infanteri 23 di Bone.
2. Kompas B menjadi Resimen Infanteri 24 di Manado.
3. Kompas C menjadi Resimen Infantari 25 di Amban.
4. Kompas D menjadi Resimen Infantari 26 di Denpasar.

PEMBENTUKAN EMPAT KOM DI INDONESIA

Perkembangan situasi keamanan di Indonesia Timur khususnya pada akhir dekade 1950-an yang belum stabil, menuntut terwujudnya kekuatan militer yang handal melalui institusi militer yang terorganisasi. Konsep baru dalam upaya pemulihan keamanan di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara, dibentuk Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan dan Tenggara. Lembaga itu berubah nama menjadi Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara (KOOPSST). Keberadaan TT-VII/Wirabuana dan KOOPSST menyebabkan terjadinya dualisma kepemimpinan militer di Sulawesi Selatan dan Tenggara, selanjutnya diputuskan untuk melaburkadua Komando tersebut dengan membentuk empat daerah militer di wilayah Indonesia Timur, yaitu:

1. Komanda Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) berkedudukan di Makassar yang kemudian di sebut Kodam XIV/Hasanuddin.
2. Komando Daerah Militer Sulawesi Utara danTengah (KDM-SUT) berkedudukan di Manado yang selanjutnya disebut Kodam XIII/Merdeka.
3. Komando Daerah Militer Maluku dan Irian Barat (KOMMIB) burkadudukan di Ambon, yang kemudian disebut Kodam XVI/Pattimura.
4. Komando Militer XVII/Cendrawasih dan Komando Daerah Militer Nusa Tenggara (KDM-NT) berkadudukan di Denpasar yang kemudian disebut Kodam XV/Udayana.

PERALIHAN DARI KDM-SST KE KODAM XIV/HASANUDDIN

Sebagai tindak lanjut dari keputusan Presiden dan Menteri Pertahanan tentang Peleburan Qua Komando (TT-VII dan KOOPSST), KSAD mengeluarkan Skep Nomor: Kpts-288/5/1957 tanggal 27 Mei 1957 tentang perubahan dari Komando Resimen Infanteri (Kamenif) menjadi KDM-SUT, KOM-SST. KOM-MIB dan KOM-NT. Selanjutnya melalui Skep KSAD Nomar: 26/5/1957 tanggal 29 Mei 1957 mengangkat Letkul Inf Andi Mattalatta sebagai Komandan dan Mayar CPM Hasruddin Texning sebagai Kepala Staf KDM-SST. Peresmian terbentuknya Komanda Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara dilaksanakan dalam suatu upacara militer pada 1 Juni 1957 di lapangan Hasanuddin Makassar oleh KSAD Mayor Jenderal A.H. Nasution.

PEMBENTUKAN KODAM VII/WIRABUANA

Pembentukan Kadam VII/Wirabuana sebagai bagian dari gelar kekuatan TNI AD yang lingkup penugasannya mencakup seluruh pulau Sulawesi, merupakan hasil Reorganisasi di jajaran ABRI termasuk dilingkungan TNI AD pada pertengahan dasawarsa 80-an. Pada awal tahun 1985 diadakan reorganisasi di lingkungan kompartemen kawilayahan dimana Kodam yang semula berjumlah 17 disederhanakan menjadi 10 Kodam.

Keberadaan dua Kadam di Sulawesi saat itu yakni Kodam XIII/Merdeka dan Kadam XIV/Hasanuddin yang membagi wilayah Pulau Sulawesi ke dalam dua wilayah pertahanan dipandang tidak efektif lagi dalam mewujudkan konsepsi pertahanan. Selanjutnya berdasarkan keputusan Panglima ABRI Nomor Kep/08/P/Iil/1984 tanggal 31 Maret 1984 dan kebijakan KSAD pada saat itu Jenderal TNI Rudini pada tanggal 12 Februari 1985 mengeluarkan surat arkan surat keputusan Nomor: Skep/131/11/19885 tentang likuidasi Kodam XIII/Merdeka dan Kadam XIV/Hasanuddin menjadi Kodam VII/ VII/Wirahuana. Setelah dilikuidasi maka di wilayah Pulau Sulawesi hanya ada satu Kodam yaitu Kodam VII/Wirabuana sebagai bentuk gelar kekuatan pertahanan aspek darat.

PENGAKTIFAN KODAM XIII/MERDEKA

Setelah melalui kajian yang panjang guna mewujudkan postur pertahanan aspak darat yang proporsional di Pulau Sulawesi khususnya di bagianutara, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyana telah merasmikan beroperasinya kembali Kadam XII/Mordeka di Manado Sulawesi utara pada tanggal 20 Desember 2016. Wilayah pertahanannya meliputi tiga tiga provinsi, yaitu Sulawesi utara, Gorontalo den Sulawesi tengah. h. Pengaktifan Pengal kembali Kodam XIII/Merdeka mengacu pada Perpang TNI Nomor 45 Tahun 2016 tanggal 13 Oktober 2016 dan Perkasad Nomor 33 Tahun 2016 tanggal 24 Oktober 2016 tentang Pembentukan dan Pengesabun Kodam XIII/Merdeka dan Kodam XVIII/Kasuari. Dengan diresmikannya Kadam dam XIII/ XIII/Murdeka di Manado maka di Pulau Sulawesi terdapat dun Kompartaman strategis, yaitu Kodam XIII/Marduka dan Kodam VII/Wirabuana sehingga gelar kekustan pertahanan di Pulau Sulawesi menjadi lebih efektif, efisien dan modern dalam rangka menjamin Kedaulatan Nagara Kesatuan Republik Indonesia.

PERUBAHAN NAMA KODAM VII MENJADI KODAM XIV/HASANUDDIN

Keberadaan Kodam XIII/Merdeka berimplikasi terhadap nama Kodam VII/Wirabuana yang menjadi kurang relevan, karena sajak awal pembentukannya merupakan gabungan dari dua Kodam yang ada di Pulau Sulawesi saat itu. Nama Wirahuana akan lebih tepat dikembalikan lagi ke marwah nama sebelumnya yaitu Hasanuddin dengan maksud mengangkat kearifan lacal dan memunculkan kambali spirit Sultan Hasanuddin sebagai pahlawan nasional di dalam jiwa prajurit

Perubahan nama Kodam VII/Wirahuana menjadi Kodam XIV/Hasanuddin didasari Perkasad nomor 5 tahun 2017 tanggal 13 Maret 2017 dengan sesantinya “Setia hingga akhir diresmikan oleh Kasad Jenderal TNI Mulyono pada tanggal 12 April 2017 di Lapangan karubuni Makassar Sulsel dengan wilayah territurial meliputi Sulawesi selatan Barat dan Tenggars