MUSEUM ISTANA DATU LUWU
Lokasi Museum Istana Datu Luwu atau Istana Langkanae Luwu terletak di jalan Landau No. 18, Batupasi, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.
b. Aset tanah dan Bangunan
1) Luas Tanah : 10.000 m2
2) Luas Bangunan : 968 m2
c. Status Tanah Museum Datu Luwu atau Istana Langkanae seluas 10.000 m2 Merupakan tanah okupasi Pemerintah Daerah.
d. Museum Istana Datu Luwu atau Istana Langkanae Luwu dibangun pada 1920 dan terletak di jalan Landau No. 18, Batupasi, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Museum ini menjadi salah satu tempat bersejarah di Kota Palopo. Dulunya, museum merupakan istana raja yang dibakar habis oleh pasukan kolonial Belanda pada masa penjajahan dulu. “Dulu ini bangunannya ditinggali raja dan terbuat dari kayu kayak rumah adat Luwu, cuman zaman dulu dibakar habis lalu dibangun kembali,” kata penjaga Museum Istana Datu Luwu Opu To Manrasa. Didalam Museum terdapat LANGNGI’ PULAWENG artinya tempat duduk emas, LANGNGI’ PULAWENG’ tidak boleh ditempati duduk kalau bukan Datu Resmi.
e. Masa di Turunkannya Batara Guru Berbicara tentang kapan berdirinya kerajaan Luwu belum ada sumber yang akurat yang bisa menjelaskan secara pasti tahun di dirikannya kerajaan Luwu tersebut. kerajaan Luwu baru terunkap secara resmi setelah ditulis oleh Prapanca pada saman Gajah Mada tahun 1364 M dalam bukunya Negarakertagama bersamaan dengan kerajaan yang ada disulawesi sebagai fase periode kerajaan di Nusantara.tetapi jika bersumber dari data ini maka kerajaan Luwu itu berawal Dari Simpurusiang padahal dalam sumber I Lagaligo terangkan bahwa pemerintahan Luwu pernah dibawah raja yang Bernama Batara Guru dan Batara Lattu. Kerajaan Luwu juga diperkirakan se-zaman dengan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan lain di pulau jawa. Dalam sejarah digambarkan bahwa sebelum Batara Guru diturunkan dibumi, situasi masyarakat Bugis Kuno hidup dalam ketidak teraturan, mereka saling menyerang tanpa aturan yang jelas, situasi tidak aman, yang kuat memangsa yang lemah ( Sianre Bale ). Akibat dari ketidak teraturan itu maka masyarakat sangat merindukan yang namanya kedamaian.
Disaat Masyarakat mengalami keterasingan jiwa, Batara Guru hadir membawa ajaran kebenaran yang menyankut hal hal prinsif seperti “ Adele, Lempu,Tongeng, dan Getteng “ ajaran tersebut sangat didukung oleh situasi sehingga membuat ajaran dan segala kebijakan pada pemerintahan Batara Guru sangat efektif di masyarakat. Sosok seorang Batara Guru digambarkan oleh masyarakat itu amat dihormati karena disamping sebagai titisan Manusia Dewa, ia amat bijak dalam memerintah dan mempunyai tenaga yang kuat dan pemberani dalam melindungi penduduk dan hal ini diturunkan atau diwariskan secara tutun temurun kepada peminpin masyarakat Bugis yang dituangkan dalam simbol “ Pedang Emas, Payung Kerajaan dan Perisai ”.
Dari pernikahannya dengan We Nyiliq Timo, Batara Guru dikarunia seorang anak yang bernama Batara Lattu. Ia merupakan calon pemegang tahta kerajaan Luwu setelah Batara Guru. Ia dilahirkan diistana Ware dilokasi segita ( Bukit Finsemouni- Ussu- Cerekan ). Dalam sumber sejarah dikatakan bahwa ketika Batara Lattu cukup dewasa, dan pemerintahan tegak kembali, Batara Guru memutuskan untuk kembali ke kerajaan Langit. Kekuasaan Ware pun diserahkan kepada Batara Lattu dan tetap dianggap sebagai Dewa.
Pengelola : Yayasan Andi Djemma.


